INDEPOLIS

Institute for Democracy and Political Justice
Subscribe

Kekuatan Politik Pengibuan

December 01, 2009 By: Lely Category: GENDER

Maria Hartiningsih

Maria Hartiningsih

Oleh : Maria Hartiningsih

Kesan kuat ketika bertemu dengan Taty Almeida (79) dan Aurora Morea (84) adalah betapa usia biologis tak mampu menggerus semangat juang kedua perempuan itu. Jabat tangan mereka terasa hangat dan kuat, suaranya tegas, meski matanya memancarkan suatu rasa yang sulit diterjemahkan dalam kata-kata.

Barangkali itulah luka yang tak tersembuhkan dari para ibu yang anak-anaknya dihilangkan junta militer di Argentina tahun 1976-1983, diawali pada masa pemerintahan Jenderal Jorge Rafael Videla. Sekitar 30.000 anak laki-laki, perempuan, suami, cucu, keponakan dihilangkan karena dianggap sebagai pendukung gerakan ”kiri”, dan melakukan kegiatan yang dianggap ”subversif”.

”Kami, para ibu, mengalami penderitaan yang sama setelah anak-anak kami dihilangkan,” ujar Taty.

Meski seperti halnya Aurora, Taty juga mengatakan, ”Mereka yang dihilangkan adalah anak-anak kami,” keduanya tak menolak berbicara tentang anak-anak mereka. Tampaknya mereka menempatkan anak-anaknya secara sosial masih tetap bersama mereka, sebagaimana ingatan yang selalu dihidupi cinta. Anak-anak itu adalah api semangat untuk terus berjuang demi pengungkapan kebenaran dan penegakan keadilan.

Mereka bergabung dengan The Mothers of the Plaza the Mayo pada tahun 1976. Aurora kehilangan putrinya, Susana Elena Pedivri de Bronzel, dan menantunya pada 27 Juli 1976 menyusul ibu dari menantunya dan menantu laki-laki yang lain.

”Saya berusaha mencari pertolongan dan menemukan sekumpulan ibu yang bernasib sama,” Aurora melanjutkan, ”Waktu itu, saya tak kenal satu pun dari mereka.”

Menurut Taty, gerakan para ibu itu dimulai dengan 14 orang. Semuanya perempuan, 13 orang di antara mereka adalah ibu. Mereka mulai jalan berbaris pada tanggal 30 April tahun 1977 di Plaza de Mayo, di depan istana Presiden Casa Rosada.

Padahal, saat itu ada larangan berkumpul lebih dari tiga orang di ruang publik. Tetapi, para perempuan itu tampaknya tidak mengacuhkan. Mereka terus berjalan mengitari piramida di tengah plaza meskipun polisi mulai mengitari mereka.

”Saya ditanya oleh salah seorang ibu, apakah saya mau ikut. Saya bilang, ’ya’,” kenang Taty, yang anak laki-lakinya, Alessandro M Almeida, ”diambil” tentara pada 17 Juni 1976.

”Kami dipertemukan nasib yang sama. Kami ingin tahu apa yang terjadi pada anak-anak kami,” lanjutnya.

Taty berasal dari keluarga menengah dan juga berasal dari keluarga militer. Alessandro adalah mahasiswa kedokteran yang bergabung dengan Gerakan Revolusioner Rakyat karena tidak tahan menyaksikan penderitaan rakyat di bawah kediktatoran junta.

Kohesif dan Militan

Gerakan yang terdiri dari ibu, nenek, bibi, dan lain-lain itu merupakan gerakan legendaris dalam sejarah gerakan perempuan di dunia karena keberanian mereka menentang rezim militer yang berkuasa dan perannya dalam kejatuhan rezim.

Gerakan itu pada awalnya sulit mendapat dukungan dari kelas menengah yang sebagian besar berpihak kepada penguasa dan ikut menjuluki mereka sebagai ”ibu para teroris”. Tiga tokohnya ”diambil” dan baru ditemukan kerangkanya pada tahun 2005.

”Kami juga tidak mendapat dukungan dari petinggi gereja,” ujar Taty, ”Tetapi, mendapat dukungan penuh dari para pastor dan suster yang bekerja di akar rumput.”

Dalam sejarahnya, sikap Gereja Katolik di Argentina terbelah. Petinggi gereja berpihak kepada penguasa, sementara para pastor dan suster, khususnya yang bekerja di akar rumput, yang tampaknya disemangati Teologi Pembebasan, bersikap lain.

Beberapa biarawan dan biarawati kemudian ikut ”dihilangkan” dalam masa-masa kritis itu, satu di antaranya adalah Suster Leonie Duquet dari Perancis, yang kerangkanya baru ditemukan setelah digali dan diidentifikasi pada tahun 2005.

Berbeda dengan gerakan feminis yang pada masa itu banyak dimotori perempuan kelas menengah dan berpendidikan, The Mothers digerakkan para ibu yang sebagian besar berasal dari kelas sosial bawah dan tidak berpendidikan. Bahkan, banyak anggotanya tak bisa membaca dan menulis.

Politik Pengibuan

The Mothers mendefinisikan diri sebagai ”ibu”, sekaligus ”revolusioner”, dan tidak menganggap dua hal itu sebagai kontradiktif. Mereka menggunakan politik pengibuan untuk melawan. Penggunaan simbol berbentuk popok sebagai penutup kepala dari kain katun putih berbentuk segitiga yang diikatkan ke dagu, bersulam nama anak mereka yang dihilangkan, adalah bagian strategi politik pengibuan.

Mereka menentang dan mengubah interpretasi tradisional dari ”pengibuan” dengan mendefinisikan ulang secara kolektif dan politis. Mereka mendeskripsikan dirinya sebagai ibu dari semua korban yang dihilangkan dan ibu dari generasi muda Argentina.

Seperti dipaparkan Marguerite Guzman Bouvard dalam Revolutionizing Motherhood: The Mothers of the Plaza de Mayo (1994), mereka bertindak sebagai mentor politik bagi anak muda yang mendukung mereka. Seperti halnya anak-anak mereka yang dihilangkan, anak-anak muda itu terhubung melalui kehendak akan reformasi politik dan perhatian kepada yang terpinggirkan. Terkait dengan itu, The Mothers mendeskripsikan diri mereka sebagai ”hamil permanen” untuk melahirkan generasi baru pemimpin politik.

Mereka membawa pengalaman otentik mereka sebagai ibu untuk melawan dan menentang pemikiran dan tindakan politik yang didefinisikan laki-laki. Realitas yang diciptakan The Mothers, juga tidak terdapat dalam berbagai aliran dari teori feminis kontemporer pada masa itu. Model gerakan itu kemudian diadopsi banyak gerakan perempuan di luar Amerika Latin.***

(Sumber : Kompas, 8 Mei 2009)

Leave a Reply