INDEPOLIS

Institute for Democracy and Political Justice
Subscribe

Harus ada Partai Sosdem di Indonesia

August 31, 2009 By: Lely Category: TERKINI

Suasana FGD di Kantor FES Jakarta

Suasana FGD di Kantor FES Jakarta

Judul ini adalah salah satu kesimpulan dari Focus Groups Discussion (FGD) yang diselenggarakan INDEPOLIS tanggal 31 Agustus 2009 di kantor FES Kemang-Jakarta, yang ditegaskan oleh Abdon Nababan (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). FGD yang diikuti sekitar 20 orang peserta itu dipandu oleh Arie Djito (Pergerakan Indonesia), bertujuan mendapatkan masukan untuk penulisan buku saku Sosdem yang akan diterbitkan oleh INDEPOLIS untuk PPR.

Penulisan (dan penerbitan) buku saku itu sendiri diperlukan, untuk menjawab kebutuhan penataan kembali keberadaan PPR (Partai Perserikatan Rakyat) yang sebelumnya gagal menjadi peserta pemilu 2009 di Indonesia. PPR telah mengambil keputusan melalui pertemuan nasional bulan Agustus 2008 untuk melanjutkan pembangunan partainya sebagai partai yang berlandaskan idiologi social demokrasi.

“Target sasaran pembaca buku ini adalah kader-kader PPR di level tengah, bukan untuk basis massa. Kelak, tugas para kader itulah yang akan mengimplementasikan bagaimana idiologi social demokrasi menjadi basis gerakan partai di tengah-tengah basis massanya, sekaligus dalam tubuh partai. Substansi buku ini adalah tentang tujuan social demokrasi dan bagaimana memperjuangkannya, melalui partai sebagai alat perjuangannya,” demikian penjelasan Syaiful Bahari, coordinator tim penulisan buku yang juga ketua Dewan Pengurus Nasional PPR.

“Buku saku ini juga akan menjelaskan tentang bagaimana sosdem menjawab permasalahan kekinian kita, antara lain ; masalah yang dihadapi buruh, petani, perempuan, nelayan, masyarakat adat dan lain-lain, melalui konsep Negara Kesejahteraan (welfare state) yang menurutnya cukup visible diwujudkan di Indonesia,” tambah Sugeng Bahagijo, salah seorang anggota tim penulis.

Peserta FGD lainnya, pak Apih Safari (ketua PPR Sumedang) yang juga tokoh sosialis, dan pak Wiek Herwiyanto (Surabaya) memberi masukan agar buku saku itu menjelaskan dengan baik sosialisme dan pertentangannya dengan kapitalisme, serta menjelaskan konsep koperasi sebagai sistim ekonomi yang sosialistik.

Sempat ada peringatan dari pak Apih untuk hati-hati (dan jika mungkin) menghindari pembahasan tentang marxisme. Karena konteks kekinian Indonesia masih resisten terhadap marxisme dan menyamakannya dengan komunisme.

Salah seorang peserta lainnya, Ibu Leya Cattleya (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) memberikan masukan

Leya Cattleya dari HAPSARI

Leya Cattleya Peserta FGD dari HAPSARI

yang sangat penting dan menarik. Ia mengatakan, barangkali, ia akan menjadi bagian dari segmen pembaca yang menjadi “target sasaran” dari buku ini. Menurutnya, social demokrasi berhubungan dengan nilai-nilai yang bersifat universal di seluruh dunia, dan saat ini memang ada trend global yang sedang mewacanakan sosdem. Buku saku ini harus menjadi media men-translate-kan bahasa-bahasa besar sosdem yang universal itu (secara cerdas) menjadi “ritual-ritual” dalam proses implementasi, menjadikannya “hero” yang berkembang dalam kekinian kita. Sebab dalam masyarakat selalu ada “hero” yang menjadi panutan, mulai dari tingkat local (tokoh di kalangan basis), partai politik, hingga trend “Obama” yang kini muncul sebagai “hero global” yang menjadi panutan.

Ibu Mian, dari FES mengajukan pertanyaan ; apakah harus dinyatakan dengan tegas ini buku saku PPR ? Sebab jika hendak menggunakannya juga sebagai “promosi sosdem”, lebih baik tidak membatasi identitas. Bukankah pada akhirnya kita harus mengajak banyak kalangan untuk memperjuangankan social demokrasi, barangkali kelak partainya bukan lagi PPR.

Namun, Darno, Sekjend PPR mengatakan bahwa, tim penulis buku akan mengalami kesulitan yang besar, jika ; pertama harus menghindari menyebut marxisme, dan, kedua menghindari menyebut partai (PPR). Sebab tidak mungkin tidak menyebutkan dari mana akar socialisme tumbuh dan berkembang menjadi sosdem, serta tidak mungkin tidak menyebutkan siapa yang berkepentingan buku saku ini dituliskan sebagai panduan membangun partai sosdem. Sebab saat ini, yang berkepentingan adalah PPR.

Hal yang sama disampaikan Ivan Hadar (Institute for Democracy Education). Menurutnya, justru isi buku harus menyebut marxisme untuk mengatasi (menghapuskan) stigma tentang marxisme (sosialisme) sebagai komunisme. Namun, pendekatan yang kreatif harus dicari. Sehingga, setiap kader yang membaca buku saku ini, dia akan setuju untuk “menjadi sosdem”.***

(Catatan dari FGD INDEPOLIS, tanggal 31 Agustus 2009)
Tags: ,

Leave a Reply