INDEPOLIS

Institute for Democracy and Political Justice
Subscribe

Di Atas Lantai Yang Bergoyang, Semua Orang Tidak Jatuh

December 01, 2009 By: Lely Category: TERKINI

Suasana Diskusi

Suasana Diskusi

Keyakinan dan pilihan terhadap sebuah idiologi gerakan rakyat harus diimplementasikan dalam setiap strategi dan tindakan (bergerakan). Oleh karena itu, secara konseptual, idiologi itu juga harus ditawarkan terbuka dalam sebuah transaksi social dan politik.

Bagi Indepolis, sebagai lembaga yang memikul mandate menjadi lembaga kajian dan pendidikan politik terpercaya untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai sosial demokrasi (sosdem), berbagai upaya untuk membangun transaksi social tentang idiologi sosdem sebagai alternative idiologi gerakan harus dilakukan secara terbuka dan terus-menerus.

Dalam rangka itulah, tanggal 31 Juli 2009 lalu INEPOLIS menyelenggarakan diskusi  dengan topic khusus “Gerakan Sosdem Pasca Pemilu Indonesia”.

Sekitar 15-an orang aktifis yang disebut oleh panitia pelaksana diskusi sebagai “komunitas sosdem” hadir dalam diskusi tersebut. Mereka antara lain aktifis dari kalangan organisasi gerakan yang telah menyatakan atau sedang membangun konsep sosdem sebagai idiologi gerakannya. Ada aktifis dari Jawa Timur,  Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur dan Jawa Barat yang merupakan jaringan Indepolis. Hadir sebagai narasumber diskusi Syaiful Bahari (Ketua Dewan Pengurus Nasional PPR) dan Sugeng Bahagijo (Prakarsa).

Menurut Syaiful, starting point dalam membangun konsep idiologi sosdem adalah bagaimana kita memandang negara, masyarakat, dan sistim social seperti apa yang akan kita bangun yang pada akhirnya menuju pada satu arena, yaitu arena politik. Jadi, sosdem tidak hanya bicara pada wilayah “kepentingan nasionalisme, apalagi sektoral” melainkan pada wilayah “state – publik”.

Catatan dari Saiful, selama ini sosdem sebagai idiologi masih dianggap “asing” dan cenderung “dijauhi” di kalangan massa rakyat, karena selalu ditempatkan dalam sekat-sekat kepentingan sektoral, terutama buruh. Ditambah lagi buruknya strategi “promosi” membangun image tentang sosdem.

Selama ini sosdem selalu dibahas secara “a histories” dan berhadapan dengan klaim nasionalis. Padahal, sosdem adalah state building. Maka sekarang, pembangunan idiologi sosdem bukan untuk dikampanyekan, melainkan untuk dikonstruksikan ulang (dekonstruksi) melalui pendidikan-pendidikan (idiologisasi).

Sugeng Bahagijo

Sugeng Bahagijo

Ini yang oleh Sugeng dijabarkan lebih dalam dengan konsep “Negara Kesejahteraan”. Dalam skema itu, ketika kewajiban negara untuk mensejahterakan rakyat, harus dipertanyaan dari mana sumber kesejahteraan itu ? Dan, alam yang selama ini menjadi sumbernya justru dieksploitasi oleh negara tapi bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Indonesia sudah memasuki mekanisme pasar yang tidak dapat dihindari. Tetapi, Negara harus menanggung biaya untuk kesejahteraan rakyatnya. Jalan keluarnya adalah politik. Karena sosdem itu “anti ketimpangan”, bukan “anti kemiskinan”. Kalau anti kemiskinan rakyat miskin diberi BLT oleh Negara, memang rakyat suka itu. Tapi dalam konsep Negara kesejahteraan, bukan BLT, tapi bagaimana di atas lantai yang bergoyang, semua orang tidak jatuh.***

(Diringkas dari hasil diskusi tgl 31 Juli 2009 Indepolis)

Leave a Reply