INDEPOLIS

Institute for Democracy and Political Justice
Subscribe

Archive for the ‘GENDER’

Sarekat Islam Perempuan

December 01, 2009 By: Lely Category: GENDER

Hajar Nur Setyowati

Hajar Nur Setyowati

Oleh : Hajar Nur Setyowati, hajar.ns@gmail.com

Sore itu di Patehan wetan 3, tidak ada yang lebih mengejutkan dan membuat dahi berkerut selain bahwa saya mendapat jatah bikin kronik tahun 1921 dan 1925. Serasa ketiban sial, karena seumur-umur bisa dibilang terlalu jarang saya baca-baca buku seputaran tahun itu. Itu tahun seharusnya sangat akrab di telinga orang sejarah, karena pergerakan buruh sedang giat-giatnya mogok dan SI sedang hangat-hangatnya merumuskan bentuk organisasi. Tapi begitulan kenyataannya, saya jarang bersentuhan dengan SI, VSTP, PPPB, PFB, juga PKI. Asumsi saya, amat sulit menggarap pekerjaan sejarah bila kita tidak tahu peta minimal peristiwa sejarah kurun itu, demikian pula nasib pekerjaan kronik 1921 dan 1925.

Tapi pekan-pekan ini, saya baru tahu hikmah ketiban sial saya menggarap tahun 1921, karena dalam pekan-pekan ini hampir 3 kali saya temukan vergadering yang dikhususkan bagi kaum SI Perempuan. Kali ini bukan serasa ketiban sial, tapi ketiban durian jatuh alias dewi fortuna. Penjelasan tentang ketiban untung ini akan saya mulai dengan sedikit dongeng ihwal materi skripsi garapan saya. “Gerakan politik perempuan 1930-1941″ adalah judul skripsi saya, tetapi fokus utama pembahasan lebih pada studi komparasi antara gerakan politik Istri Sedar yang cenderung bersifat nonkooperatif dengan gerakan politik Kongres Perempuan Indonesia yang bersifat kooperatif. (more…)

Kekuatan Politik Pengibuan

December 01, 2009 By: Lely Category: GENDER

Maria Hartiningsih

Maria Hartiningsih

Oleh : Maria Hartiningsih

Kesan kuat ketika bertemu dengan Taty Almeida (79) dan Aurora Morea (84) adalah betapa usia biologis tak mampu menggerus semangat juang kedua perempuan itu. Jabat tangan mereka terasa hangat dan kuat, suaranya tegas, meski matanya memancarkan suatu rasa yang sulit diterjemahkan dalam kata-kata.

Barangkali itulah luka yang tak tersembuhkan dari para ibu yang anak-anaknya dihilangkan junta militer di Argentina tahun 1976-1983, diawali pada masa pemerintahan Jenderal Jorge Rafael Videla. Sekitar 30.000 anak laki-laki, perempuan, suami, cucu, keponakan dihilangkan karena dianggap sebagai pendukung gerakan ”kiri”, dan melakukan kegiatan yang dianggap ”subversif”.

”Kami, para ibu, mengalami penderitaan yang sama setelah anak-anak kami dihilangkan,” ujar Taty.

Meski seperti halnya Aurora, Taty juga mengatakan, ”Mereka yang dihilangkan adalah anak-anak kami,” keduanya tak menolak berbicara tentang anak-anak mereka. Tampaknya mereka menempatkan anak-anaknya secara sosial masih tetap bersama mereka, sebagaimana ingatan yang selalu dihidupi cinta. Anak-anak itu adalah api semangat untuk terus berjuang demi pengungkapan kebenaran dan penegakan keadilan.

Mereka bergabung dengan The Mothers of the Plaza the Mayo pada tahun 1976. Aurora kehilangan putrinya, Susana Elena Pedivri de Bronzel, dan menantunya pada 27 Juli 1976 menyusul ibu dari menantunya dan menantu laki-laki yang lain. (more…)

In Memoriam Soerastri Karma Trimurti

December 01, 2009 By: Lely Category: GENDER

Siti Hajar

Hajar Nur Setyowati

Oleh : Hajar Nur Setyowati, hajar.ns@gmail.com

Pertengahan Mei, saya mesti berangkat ke Batavia, lantaran lembaga tempat saya bekerja: I:Boekoe (Indonesia Boekoe), punya hajatan yang diberi nama “Festival Mei”. Berita keberangkatan datang tiba-tiba, tepatnya h-1. Saya tak sempat membuat rencana, akan kemana saja saya selama singgah di ibu kota. Tapi saya ingat, saya mesti ketemu dengan Surastri Karma Trimurti. Seseorang yang saya tulis riwayatnya dalam esai pendek: 2000 kata, lagi-lagi karena pekerjaan.

Saya dengar dari penjaga museum “pergerakan perempuan Indonesia” yang terletak tak jauh dari kampus saya sekarang (UIN) Sunan Kalijaga, bahwa ia sedang berobat ke Amerika, saya jadi sangsi akan bertemu.

20 Mei 2008, Mata Hari Lounge, Jl. Veteran No. 32, Launching dan Bedah Buku “Kronik Kebangkitan Indonesia”.

Malam itu, kali kelima saya didaulat menjadi mc, setelah lima tahun tidak menyambangi. Tapi kali itu saya sempat tak bersemangat, karena saya gagal berangkat bedah buku karangan Cora de Vreede, buku babon sejarah pergerakan perempuan Indonesia yang telat diterjemahkan. (karena buku ini dirilis semenjak tahun 1964-an). Meski para nama pembicara bedah buku tak membuat saya sumringah, tapi saya benar-benar ingin hadir.

Waktu mepet, saya tak mungkin telat karena ada job mc, apalagi hari itu libur nasional, sehingga niatan berangkat dari Salemba (sebut Perpustakaan Nasional), yang berarti tak jauh dari tempat acara, jadi batal. Kemacetan Jakarta membuat saya makin ragu, bahwa saya akan datang tepat waktu di Veteran I.

Seperti biasa, saya terduduk di sofa empuk, utara panggung. Tengah acara bedah buku, tiba-tiba, Taufik Rahzen, yang secara tiba-tiba juga menjadi moderator, mewartakan kabar duka. “Ali Sadikin dan SK Trimurti meninggal dunia”. (more…)

Maria Ulfah

November 30, 2009 By: Lely Category: GENDER

Perempuan Indonesia pertama yang bergelar meester in de rechten (sarjana hukum), pernah menjabat menteri sosial pada Kabinet Syahrir, jadi anggota DPA, aktif dalam pergerakan politik. Suaminya yang pertama, Mr. Santoso, adalah bekas sekjen Departemen P dan K (menikah 28 Pebruari 1938 di Kuningan). Gugur di Yogya dalam agresi Belanda ke II, 1948.

Pernikahannya yang kedua dengan Soebadio Sastrosatomo, tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) itu – yang dilakukan dengan minta izin dulu kepada Presiden Soekarno. Ia satu-satunya perempuan Indonesia yang untuk menikah perlu minta izin terlebih dulu kepada kepala Negara.
Ia hadir pula dalam Kongres Perempoean Indonesia di Yogya. “Dalam kongres itulah saya berkenalan pula dengan tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan seperti Wilopo, Soemanang dan lain-lain”, tuturnya.

Dan karena kongres itu oleh Belanda dianggap salah satu kegiatan dari pergerakan kebangsaan, maka PID (Politieke Inlichtingen Dienst, polisi rahasia Belanda) mengawasinya. Maria sendiri tak luput dari inceran PID, meski ia bukan anggota sesuatu partai politik. Pertama kali, ia aktif dalam Perwari. Baru tahun 1955 ia aktif masuk organisasi politik, PSI.